HomeBeritaMuhidin M. Said Mengharapkan Ada Stasiun Persinggahan Kereta Bandara Kualanamu

Muhidin M. Said Mengharapkan Ada Stasiun Persinggahan Kereta Bandara Kualanamu

5728769330c18-tim-kunjungan-kerja-spesifik-komisi-v-dpr-ri_663_382

Ketua Tim Kunjungan Kerja Komisi V DPR ke Provinsi Sumatera Utara Muhidin M. Said mengharapkan agar dibuatkan stasiun-stasiun persinggahan bagi kereta api rute Bandara Kualanamu-Medan.

“Saya melihat keberadaan kereta ini masih ada sedikit problem,” kata Muhidin disela-sela peninjauan penggunaan double track kereta api Bandara Kualanamu-Medan di Medan Sumatera Utara, Senin 2 Mei 2016.

Problemnya itu, sambung politisi Partai Golkar ini, karena tidak ada stasiun-stasiun persinggahan. Jadi yang ada hanya dari Bandara Kualanamu ke Medan.

Hal ini menyebabkan,  tegas Muhidin, masyarakat yang memanfaatkan transportasi ini relatif masih kecil. Kurang lebih 30% dari kapasitas yang ada yaitu sebanyak 308 kursi penumpang setiap jalannya. Kereta bandara ini memiliki 20 kali PP perjalanan dari Stasiun Bandara Kualanamu ke Stasiun Medan.

“Kami mengharapkan agar dibuatkan stasiun-stasiun persinggahan. Agar masyarakat sampai di Medan tidak harus mencari kendaraan lagi,” katanya.

Kereta api bandara mulai beroperasi pada 25 Juli 2013  bersamaan dengan beroperasinya Bandara Internasional Kualanamu. Kereta api ini dioperasikan oleh Railink yang merupakan perusahaan patungan antara Kereta Api Indonesia dan Angkasa Pura II (Persero).

KA Bandara Kualanamu saat ini memiliki frekuensi 20 kali PP perjalanan dari Stasiun Medan ke Stasiun Bandara Kuala Namu. Jadwal per (28 April 2014), berkapasitas 308 tempat duduk, dengan lama perjalanan 30 menit saat menuju bandara, dan 30-47 menit saat menuju Medan (kereta menuju bandara lebih cepat karena diprioritaskan dalam penggunaan rel tunggal dalam rute ini).

Fasilitas yang disediakan dalam kereta api ini adalah fasilitas kenyamanan kereta api eksekutif dengan harga tiket kereta api sekali jalan Rp80.000,00. Proyek kereta api bandara ini merupakan pilot project dan akan dikembangkan di beberapa bandara internasional di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan Padang.

Sumber: VIVA

Comments

comments

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *