HomeBeritaRegenerasi Kepemimpinan dan Langit yang Terbuka

Regenerasi Kepemimpinan dan Langit yang Terbuka

Pidato Politik Terakhir sebagai Ketua Umum di Munaslub Partai Golkar. Nusa Dua, Bali, 14 Oktober 2016

ARB Munaslub 2016Saya juga ingin mengucapkan apresiasi dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada tim penyelenggara serta semua pihak yang telah membantu suksesnya penyelenggaraan Munas Luar Biasa Partai Golkar ini.

Secara khusus, saya ingin menyampaikan selamat datang dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Di tengah berbagai kesibukannya, beliau berdua tetap menyempatkan diri hadir di Pulau Dewata yang indah ini bersama kita semua. Untuk itu saya ingin menyampaikan salam hangat buat Pak Jokowi dan Pak JK dari seluruh kader Partai Golkar. Semoga kehadiran kedua pimpinan tertinggi Republik Indonesia pada malam ini diridhoi oleh Allah SWT, serta menjadi pertanda baik bagi perjalanan Partai Golkar ke depan.

Selanjutnya, saya ingin menyampaikan apresiasi dari hati yang tulus kepada segenap pimpinan dan kader Partai Golkar yang datang dari semua daerah, baik di tingkat I maupun tingkat II. Mereka adalah pemilik suara serta tokoh-tokoh yang membesarkan partai di daerah masing-masing. Pemilik suara dan kader-kader daerahlah yang sesungguhnya menjadikan pohon beringin sebagai pohon yang besar dan rindang, dengan akar yang kokoh menancap di bumi persada Indonesia.

Pada malam yang berbahagia ini, kita akan mengawali sebuah momen penting dalam sejarah perjalanan partai kita. Forum Musyawarah Nasional Luar Biasa, atau yang biasa disingkat sebagai “Munaslub”, adalah forum tertinggi partai tempat kita mengambil keputusan strategis yang tuntas dan paripurna.

Karena itu, jadikanlah Munaslub ini sebagai sebuah momen untuk menunjukkan persatuan partai kita, serta untuk menyiapkannya dalam merebut kejayaan di masa depan.

Partai Golkar harus segera mempersiapkan diri menyongsong berbagai peristiwa penting di depan, seperti Pilkada 2017 dan 2018, serta Pileg dan Pilpres 2019. Dalam kondisi apapun, konsolidasi organisasi mutlak untuk dilakukan, baik vertikal maupun horizontal, di kota dan terlebih lagi di kecamatan hingga di desa-desa. Hanya dengan cara inilah Partai Golkar akan mampu menjaga kiprahnya sebagai kekuatan politik yang disegani.

Selain itu, dalam konteks yang lebih besar, lewat Munaslub ini Partai Golkar akan menyuarakan pentingnya reformasi lebih lanjut dari sistem ketatanegaraan Indonesia. Dengan perubahan ke-5 dari sistem konstitusional kita, Partai Golkar ingin menyempurnakan konstitusi agar menjadi instrumen utama pencapaian tujuan besar Indonesia. Kita perlu menyesuaikan kembali agar batang tubuh konstitusi selaras dengan semangat yang dikandung dalam Muqadimah UUD45.

Selain itu, lewat Munaslub ini Partai Golkar juga akan menegaskan bahwa sistem politik Indonesia perlu terus dibenahi, antara lain dengan mengubah sistem pemilu menjadi sistem proporsional tertutup (atau yang sering disebut secara akademis sistem proporsional sempurna) atau menjadi sistem distrik.

Di samping semua itu, dalam hal yang menyangkut kebijakan internal partai, lewat Munaslub ini kita akan memperkuat rekomendasi Rapimnas beberapa bulan lalu untuk terus mendukung pemerintahan Jokowi-JK. Kita juga akan menuntaskan rekonsialisi internal dengan melakukan rehabilitasi terhadap kader-kader partai yang dipecat dalam Munas sebelumnya. Pada ujung Munaslub ini, kita juga akan melakukan satu hal yang sangat strategis, yaitu pemilihan Ketua Umum baru yang sanggup serta mampu menjadi nahkoda Partai Golkar di masa mendatang.

Partai Golkar menyambut Munaslub ini dengan penuh antusiasme dan harapan yang besar. Kita tidak dipaksa dan tidak pula merasa terpaksa melaksanakan momen bersejarah ini.

Konflik hukum dan dualisme kepemimpinan telah selesai dengan keputusan MA yang memenangkan Munas Bali. Pemerintah juga sudah mengesahkan kepengurusan kita hingga 2019, tanpa prasayaratan apapun.

Jadi, kalau sekadar ingin mempertahankan kekuasaan, kita tidak akan berada di sini pada malam ini. Namun, saya lebih memilih jeneng dari pada jumeneng. Artinya, saya lebih memilih nama baik daripada kedudukan, nama baik bukan untuk saya atau keluarga, tetapi untuk kemajuan dan kebesaran partai yang kita cintai ini.

Sebagaimana yang telah saya tegaskan berulang kali, bagi Partai Golkar, dan juga buat saya pribadi, kekuasaan hanyalah instrumen pencapaian sebuah tujuan, bukan tujuan itu sendiri.Power is but a means to achieve something bigger than ourselves. Kekuasaan harus ditujukan untuk mencapai tujuan-tujuan besar yang jauh melampaui kepentingan setiap individu.

Karena itu, tanpa ada satu pun pihak yang memaksa, dengan berlandaskan sepenuhnya pada kesadaran kita sendiri untuk menyesuaikan arah perjalan Golkar yang sesuai dengan marwahnya, serta sesuai pula dengan konstelasi bintang-bintang di langit politik Indonesia saat ini, maka kita bertekad untuk menyelenggarakan Munaslub ini.

Selain itu, kita ingin menjadikan forum tertinggi ini sebagai sebuah momen pamungkas dalam mewujudkan keutuhan partai yang sempat terpecah selama lebih setahun. Kita ingin menujukkan seterang-terangnya bahwa bagi Partai Golkar, semangat perdamaian serta tali persahabatan berada di atas segala-galanya.

Sebagai manusia biasa, ada kalanya kita tergoda oleh kekuasaan, ada kalanya kita ingin memanfaatkan celah yang terbuka tanpa memperhatikan rambu-rambu kepantasan dan aturan organisasi. Tapi, pada akhirnya kita kita semua tersadarkan kembali, menemukan keseimbangan diri, serta bertekad untuk merajut kembali tali persaudaraaan abadi serta menjadikan pohon beringin sebagai pohon rindang yang teduh menaungi segala spektrum kepentingan yang ada di partai kita.

Demikian pula, Munaslub ini kita selenggarakan karena memang Partai Golkar sudah siap melakukan regenerasi kepemimpinan. Partai kita adalah partai terbuka, demokratis, dan sangat dinamis. Kita memiliki begitu banyak kader-kader muda yang sudah semakin terlatih, sudah menjadi politisi piawai di bidang masing-masing.

Mereka adalah pendekar-pendekar muda yang telah menguasai ilmu pedang, mampu bermain dalam irama politik Indonesia, serta memiliki penciuman yang tajam terhadap bergesernya arah angin.

Semula kita telah merencanakan bahwa pergantian kepemimpinan akan dilakukan pada 2019. Namun kita memutuskan untuk tidak perlu menunggu lebih lama lagi. Lebih cepat lebih baik, sehingga darah segar terus mengalir di partai kita, dan pada akhirnya kapal besar Partai Golkar akan berjalan dengan lebih baik lagi.

Dengan semua itu Partai Golkar juga memberi contoh dan teladan kepada Indonesia dan kepada partai-partai lainnya. Kita telah mengikuti proses kampanye dan sosialisasi yang ditujukan kepada para kader di Indonesia Barat (Medan), Tengah (Surabaya), dan Timur (Bali).

Kemarin malam dan beberapa malam sebelumnya kita telah mengadakan debat kandidat yang terbuka dan disaksikan langsung oleh pemirsa di seluruh Tanah Air. Kita menyaksikan pertukaran gagasan dan adu visi yang terbuka di antara kandidat calon ketua umum mengenai beberapa tema penting, seperti politik, hukum, keamanan, serta ekonomi, kesejahteraan rakyat dan pendidikan.

Dengan bangga kita bisa berkata bahwa baru Partai Golkar yang melakukan hal semacam itu. Saya sungguh merasa tersanjung ketika bertemu Bapak Jokowi dan Bapak JK baru-baru ini dan beliau berdua mengatakan kepada saya bahwa mereka terus mengikuti debat kandidat ketua umum Partai Golkar di televisi.

Di masa mendatang, forum seperti itu harus kita jadikan tradisi dalam setiap pemilihan Ketua Umum Partai Golkar. Tentu saja kita berharap bahwa partai-partai lainnya juga akan melakukan hal yang sama, sehingga demokrasi Indonesia menjadi semakin matang dan dinamis.

Kepada para kandidat yang telah berpartisipasi dalam debat tersebut (Ade Komarudin, Setya Novanto, Airlangga Hartarto, Mahyudin, Priyo Budi Santoso, Azis Syamsudin, Indra Bambang Oetoyo, dan Syahrul Yasin Limpo), kita semua menyampaikan apresiasi yang sedalam-dalamnya.

Tentu saja pada akhirnya akan ada kalah dan menang. Kepada kandidat yang kalah nanti, kita harapkan untuk berbesar hati. Kepada kandidat yang menang, kita himbau untuk merangkul semua, mengajak semua pihak untuk bersatu kembali dan bersama-sama membesarkan partai yang kita cintai ini.

Pengabdian pada partai adalah sebentuk pengabdian pada Tanah Air. Karena itu, kepada nahkoda baru partai kita, harapan yang besar terbentang di depan untuk merebut kembali kejayaan partai, dan lebih terutama lagi, untuk menjadikan Partai Golkar sebagai motor pendorong kemajuan bagi seluruh bangsa Indonesia.

Mengenai posisi Partai Golkar dalam hubungannya dengan pemerintahan Presiden Jokowi, sebagaimana yang telah saya singgung sebelumnya, Munaslub ini akan memutuskan untuk meneruskan rekomendasi yang telah diputuskan dalam Rapimnas beberapa saat lalu.

Sebagai kekuatan politik, Golkar tidak lahir dalam oposisi. Doktrin partai kita berbeda dengan doktrin partai lainnya. Keahlian kita adalah pada pengelolaan kekuasaan, bukan pada perlawanan terhadap kekuasaan.

Partai Golkar adalah partai karya dan kekaryaan, sebuah kekuatan yang konstruktif, terutama dalam peningkatan kesejahteraan rakyat. Kita ahli membangun, jagoan dalam berkarya, tetapi barangkali rikuh dan kehilangan jati diri dalam bergerak sebagai kekuatan oposisi.

Karena itulah kita mengambil sikap baru, melakukan repositioning demi pengabdian kita pada tujuan yang lebih besar, yaitu kejayaan partai dan kemajuan Republik Indonesia. Partai Golkar memilih jalur pengabdian dengan berada bersama kekuatan yang dipimpin oleh Presiden Jokowi.

Dengan begitu, kita berkesempatan untuk berpartisipasi dalam lahirnya kebijakan-kebijakan progresif, membicarakan dan mendiskusikannya sebelum kebijakan tersebut diluncurkan.

Semua itu tidak berarti bahwa kita menjilat ludah sendiri, atau bahwa kita menghamba pada kekuasaan. Tujuan kita adalah partisipasi yang lebih aktif dalam kemajuan Indonesia, dan selebihnya hanyalah masalah taktis politik yang bersifat kontekstual.

Kepada sahabat-sahabat kita di KMP (Koalisi Merah Putih), harus ditegaskan bahwa tali perkawanan kita tidak mengendur sedikit pun. Kita semua tetap berada dalam kubu kebangsaan, kubu Merah Putih, putra dan putri bangsa Indonesia yang ingin mengabdi demi kemajuan Tanah Air.

Mimpi dan kerinduan kita sama. Cita-cita kita pun tidak berbeda. Indonesia harus terus melangkah maju lewat tangan dan usaha kita bersama, apapun partai dan pemihakan politik masing-masing.

Karena itu, saya tidak ragu sedikit pun. Tujuan tetap sama. Arah kapal besar kita pun tetap sama. Kita hanya berbelok sedikit. Kita hanya berputar sedikit, karena hanya dengan itulah Partai Golkar dapat kembali ke marwahnya sebagai partai karya dan kekaryaan.

Izinkan saya untuk mengulang kembali ungkapan Jendral Omar Bradley, pahlawan Perang Eropa: set your course by the stars, not by the lights of every passing ships. Tetapkan tujuanmu berdasarkan pada bintang-bintang di langit, bukan pada cahaya kapal-kapal kecil yang datang dan pergi. Makna kata-kata inilah yang perlu kita renungkan bersama pada saat-saat  penting seperti ini.

Insya Allah, setelah berbagai keputusan penting ditetapkan, setelah repositioning dilakukan, serta dengan nahkoda yang baru, layar Partai Golkar akan terkembang kembali, terbuka lebar dan melaju kencang bersama angin buritan dalam mencapai pelabuhan yang menjadi tujuan kita semua.

Besok saya akan menyampaikan laporan pertanggung jawaban, dan pidato

pada malam ini adalah pidato politik saya yang terakhir sebagai Ketua Umum di hadapan saudara-saudara.

Setiap waktu ada orangnya, dan setiap orang ada waktunya. Dalam dunia politik, barangkali kearifan hidup semacam itu bukanlah sesuatu yang mudah diterapkan. Tapi saya terus mengingatkan diri saya akan sebuah ungkapan Jawa klasik, wani ngalah luhung wekasane, berani mengalah adalah cermin keluhuran budi.

Selain itu, saya juga sering teringat akan ucapan Bung Karno, “Barang siapa yang melawan kehendak sejarah, pasti akan digilas dan digiling oleh perputaran sejarah itu sendiri.”

Regenerasi kepemimpinan adalah sebuah keniscayaan sejarah. Karena itu, dalam hari-hari terakhir pengabdian saya, saya justru ingin memastikan bahwa regenerasi terjadi dengan baik dan menjadi sumber inspirasi bagi kader-kader partai yang kita cintai ini.

Setelah mengantarkan peralihan generasi, saya tentu akan surut ke belakang, menjalankan peran saya berdasarkan prinsip tut wuri handayani, membimbing, menasehati, serta kalau diperlukan turut serta mengarahkan bersama Ketua Umum baru yang terpilih nanti.

Sebagai pribadi, saya merasa bangga dan bersyukur telah memberikan pengabdian kepada Partai Golkar. Saya bangga atas kepercayaan yang telah saudara-saudara berikan kepada saya, dan saya bersyukur atas tali persahabatan kita yang telah terjalin selama ini.

Kita telah berjuang bersama. Kita telah berusaha membesarkan partai yang kita cintai ini. Ada naik dan turun. Ada pula suka dan duka. Ada kecemasan, tetapi banyak pula harapan dan momen-momen yang membesarkan hati.

Dari Sabang sampai Merauke saya telah bertemu bengitu banyak kader partai. Siang dan malam, di gunung dan di tepi laut, di kota dan di desa, selama tujuh tahun terakhir ini saya telah bersalaman dan berusaha mengenali kondisi kehidupan kader-kader partai kita, menyerap kerinduan mereka, serta berusaha membantu sejauh yang saya mampu lakukan, betapapun terbatasnya.

(Karena pengalaman Sabang-Merauke ini, kepada panitia penyelenggara saya telah meminta agar dalam acara ini dinyanyikan lagu Indonesia Manise, yang merupakan adaptasi dari lagu Maluku Pusaka, sebuah lagu yang indah dan sarat dengan pesan-pesan persaudaraan. Lagu ini saya minta khusus dipersembahkan buat Presiden Jokowi).

Dalam perjalanan kehidupan, saya telah mengalami banyak hal. Tetapi pengalamanan dalam mengabdi dan memimpin Partai Golkar akan saya kenang sampai kapan pun.

Dalam saat-saat akhir seperti ini, saya hanya bisa menyampaikan terima kasih dari hati saya yang tulus kepada saudara-saudara semua. Saya telah berutang budi atas bantuan dan peran begitu banyak kawan dan sahabat. Semua prestasi yang ada dalam masa kepemimpinan saya adalah karya dan kerja mereka semua.

Tentu, ada banyak kekurangan dan kesalahan yang telah saya lakukan. Untuk itu, saya memohon maaf sebesar-besarnya dan berharap bahwa kekurangan dan kelemahan tersebut menjadi pelajaran bagi pemimpin berikutnya dalam membesarkan partai kita.

Akhirnya, seperti biasa, perkenankanlah saya menutup pidato ini dengan membacakan tiga bait pantun:

Laju-laju perahu laju

Ombak meninggi anginnya kencang

Pandai-pandai Golkar melaju

Hindari biduk terhempas karang

Rebut suara cari dukungan

Para kandidat bersaing visi

Jangan menggunting dalam lipatan

Jangan menohok kawan sendiri

Solo-Makasar bersatu padu

Tapi ombaknya naik dan turun

Jokowi-JK terus bersatu

Indonesia senang rakyatnya rukun

Comments

comments

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *