HomeBeritaJalur Nonformal Solusi Alternatif

Jalur Nonformal Solusi Alternatif

Tidak Semua Anak Cocok dengan Sekolah Formal

wakil-ketua-komisi-x-dpr-ferdiansyah-_160919165057-435

JAKARTA – Pendidikan alternatif sebagai salah satu pilihan penyedia layanan sekolah kepada masyarakat bisa menjadi salah satu solusi menanggulangi putus sekolah. Cara ini realistis karena tidak semua anak Indonesia cocok dengan pola pembelajaran di sekolah formal.

“Misi utama pendidikan adalah mencerdaskan bangsa. Caranya tidak hanya lewat sekolah formal, tetapi juga lewat sistem nonformal dan informal,” kata Wakil Ketua Komisi X dari Fraksi Golkar, Ferdiansyah, di Jakarta, Senin (3/10).┬áIa dimintai tanggapannya seputar tingginya angka putus sekolah yang berimbas pada turunnya daya saing banysa (Kompas, 1/10).

Ia berpendapat, terdapat anak-anak yang tidak bisa mengikuti pendidikan formal karena lingkungan sekitar tidak kondusif. Misalnya anak-anak yang harus membantu orangtua bekerja di ladang dan di laut ataupun mereka yang tinggal di wilayah terlalu jauh dari sekolah formal.

Karena itu, menurut Ferdiansyah, daripada membangun sekolah formal lebih baik memberi mereka pendidikan nonformal seperti Kejar Paket ataupun pendidikan komunitas. Selain meringankan biaya, hal ini juga relevan dengan tata cara kehidupan mereka sehari-hari.

“Pendidikan jalur nonformal tetap menggunakan kurikulum nasional, tetapi waktunya disesuaikan dengan kemampuan peserta didik. Misalnya, sore hari seusai membantu orangtua ataupun tiga kali pertemuan dalam sepekan,” ujarnya.

Dengan demikian, sejak awal mereka tidak terbebani dengan pemikiran bahwa satu-satunya akses pendidikan adalah melalui jalur formal.

Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tahun 2014, sebaganyak 40,4 persen alasan siswa tidak melanjutkan sekolah karena keluarga tidak punya biaya. Sementara, 12,4 persen siswa karena harus membantu orangtua mencari nafkah, 66 persen menganggap pendidikan tidak berpengaruh dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga, dan 2,9 persen alasan karena jarak sekolah yang jauh dari rumah.

Nonkonvensional

Ferdiansyah tidak menafikan Kartu Indonesia Pintar dan Program Keluarga Harapan untuk membantu penurunan angka putus sekolah. Namun, solusi nonkonvensional tetap diperlukan.

“Sistem sekolah satu atap yang memanfaatkan ruang-ruang kelas secara bergantian untuk SD hingga SMA juga bisa dipertimbangkan agar diperbanyak,” tuturnya.

Hendaknya pemerintah daerah memetakan wilayah-wilayah yang butuh intervensi. Di samping itu, juga perlu diupayakan menyerap kembali anak-anak yang sudah putus sekolah agar kembali ke dalam jalur pendidikan formal ataupun nonformal.

Hal ini merupakan tantangan karena umumnya mereka yang sudah putus sekolah selama lebih dari satu tahun sudah nyaman mencari nafkah.

Direktur Pendidikan Tinggi, Iptek, dan Kebudayaan Bappenas, Amich Alhumami mencontohkan Kabupaten Mamuju (Sulawesi Barat) yang bersama Unicef mendata anak putus sekolah lalu mengintervensi bersama orang tua mereka.

Sumber: KOMPAS

Comments

comments

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *