HomeBeritaCetak Masa Depan Gemilang, Firman Soebagyo Bangun Masjid dan TPQ di Dapilnya

Cetak Masa Depan Gemilang, Firman Soebagyo Bangun Masjid dan TPQ di Dapilnya

IMG-20161113-WA0018

PATI – Jika wakil rakyat itu dikenal populis alias merakyat pasti banyak cara yang kreatif untuk menghadirkan suasana yang baik bagi konstituennya di Daerah Pemilihan (Dapil) masing-masing.

Tengok saja Anggota Komisi IV yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Baleg DPR RI Firman Soebagyo membangun masjid di Dapilnya dari kantong sendiri.

Oleh masyarakat setempat masjid itu diberi nama Masjid al Firman sebagai bentuk apresiasi warga kampung terhadap kebaikan Firman Soebagyo sebagai donatur pembangunan rumah ibadah umat Islam itu.

Kreativitas Firman yang juga Sekretaris Dewan Pakar DPP Partai Golkar ini tak sampai di situ. Berkat niat baiknya ingin agar generasi penerus bangsa memiliki pemahaman agama yang memadai untuk menghadapi zamannya.

Maka Firman pun, mendirikan Taman Pendidikan al-Qur’an (TPQ) Al Ikhlas di tempat yang sama Desa Kedalon, Kecamatan Batangan, Pati, Jawa Tengah.

Firman tahu betul kebutuhan rakyatnya, yakni Masjid dan TPQ untuk masyarakat desa yang lebih bermartabat. Dan akhirnya masjid dan TPA itu diresmikan secara bersamaan Jumat (12/11/2016) sore lalu. Peresmian keduanya dihadiri Ketua Dewan Pembina IKKP Haryanto dan Ketua IKKP Bidang Usaha, Saiful Arifin.

“Kita berharap, pembangunan masjid ini menjadi bagian dari syiar agama Islam di Desa Kedalon. Sementara TPQ ini dibuat dengan lima kelas menjadi upaya untuk memudahkan generasi muda, khususnya anak-anak di desa ini bisa dengan mudah belajar pendidikan Islam,” jelas Firman di Pati, Jawa Tengah.

Pemimpin besar itu memiliki visi besar nan mulia bagi pengikutnya. Hal itu pula dilakukan oleh Ketua Umum Ikatan Keluarga Kabupaten Pati (IKKP) ini. Di masa mendatang, Firman ingin agar rintisan TPQ ini menjadi madrasah, atau bisa saja sebagai pesantren 10-20 tahun ke depannya.

“Kita juga ada keinginan dalam jangka panjang, TPQ Al Ikhas diproyeksikan menjadi lembaga pendidikan formal, seperti madrasah. Kita lihat saja seperti apa perkembangannya. Kita berharap bangunan awal ini dari masjid dan TPQ ini manfaatkan sebaik-baiknya,” harap Sekjen Depinas SOKSI ini.

Alumni UGM dan Unpad ini menceritakan kampung kelahirannya ini, Desa Kedalon sejak dirinya masih berusia belia. Kala itu penduduk desa mayoritas Islam. Namun, penganutnya untuk salat di masjid sangat susah. Bahkan musalla dan masjid sangat sepi digunakan untuk salat dan mengaji.

“Ajaran agama Islam dalam sejarahnya berkembang di desa ini sangat lamban. Waktu saya masih kecil, belum ada listrik, belum ada aspal jalan, belum ada apa-apa. Tidak seperti hari ini. Minat masyarakat waktu itu untuk salat sangat sulit. Bisa dibayangkan, jangankan ke musalla atau masjid untuk salat, salat di rumah saja susah,” ceritanya.

Untungnya, lanjutnya, ada beberapa santri kecil yang mondok di luar kampung yang menjadi cikal bakal penyebaran agama Islam di Desa Kedalon pada 1930 itu.

“Saat itu banyak warga yang enggan beribadah seperti salat dan mengaji, tetapi kalau ke kondangan rajin sekali. Alhamdulillah, di 2007 saya melihat suasana pengajian wisuda anak-anak TPQ itu di emperan, tempatnya sangat sederhana. Saya berpikir, bagaimana anak-anak bisa maju kalau kondisinya seperti ini,” paparnya.

“Kemudian saya berpikir, bagaimana kalau saya bangun TPA. Dan saya bilang ke warga apakah saya bisa membangunkan TPQ di kampung ini untuk mereka? Waktu itu secara spontan atau tiba-tiba ada ibu-ibu yang mengamini dan mendoakan. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa membangun masjid dan TPQ di kampung kelahiran saya sendiri,” ucapnya, bersyukur cita-cita politisi senior Golkar ini terwujud membangun kampung halaman dari Jakarta.

LintasParlemen

Comments

comments

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *