HomeBeritaMarlinda Irwanti Temui Guru Honorer Penjual Kacang Bawang

Marlinda Irwanti Temui Guru Honorer Penjual Kacang Bawang

Yumrotul mulai mengupas kacang saat anaknya terlelap, Ia harus menyiapkan kacang bawang dan jajanan lainnya untuk dijual di SDN Pranten 03.  Sekolah di daerah terpencil di Pegunungan Prahu, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang yang menjadi tempat Ia mengajar sejak tanggal 15 Juli 2007.

Setiap hari Ia baru bisa beristirahat sekitar pukul 24.00 WIB dan bangun sebelum azan subuh berkumandang, atau sekitar pukul 04.00 WIB.  Yumrotul mengaku Ia harus bangun pagi agar bisa menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya, sebelum berangkat mengajar.

Bocah laki-laki berusia tiga tahun itu masih terlelap, saat Yumrotul menyalakan motor milik suaminya sekitar pukul 06.00 WIB untuk pergi mengajar di SDN Pranten 03.  Lebih kurang 40 menit Ia menunggang motor dari rumahnya di Desa Amongrogo, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang untuk sampai di Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang.

Setibanya di Desa Pranten,  Yumrotul menitipkan motornya di rumah salah seorang penduduk, dan berjalan kaki menuruni lembah dan mendaki bukit menuju Dusun Sigemplong untuk sampai di SDN Pranten 03.  Menurut Yumrotul jika Ia berangkat dari rumah sekitar Pukul 06.00 WIB maka pukul 08.30 WIB Ia sudah sampai di sekolah.

Siang hari sekitar pukul 14.00 WIB Yumrotul telah sampai kembali di rumahnya.  Ia pun segera menjemput anaknya yang sejak pagi diasuh oleh neneknya.  Saat di rumah, selain memasak Yumrotul pun masih menyempatkan menyiapkan bahan untuk mengajar di Madrasah Al-Ikhlas.

“Apa saja saya kerjakan, untuk menambah penghasilan, karena dengan honor Rp 200 ribu dari SDN Pranten 03 tidak cukup,” imbuhnya.

Yumrotul mengaku, Ia dan suaminya yang bekerja serabutan tidak punya penghasilan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, namun Ia tetap bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk terus mengabdi sebagai guru.

Nasibnya memang tidak seberuntung guru lainnya, tetapi mengajar di SDN Pranten 03 sudah jadi panggilan hati Yumrotul, suasana kekeluargaan di antara para guru dan antusiasme murid-murid menunggu kedatangannya untuk belajar membuat Ia tak sampai hati untuk tidak mengajar apalagi berhenti mengajar di sekolah itu.

Selain Yumrotul atau yang bernama lengkap Yumrotul Musyaropah, masih ada Muhyidin guru honorer lain yang telah mengabdi selama 14 tahun di SDN Pranten 03 dan berhonor sama Rp 200 ribu per bulan.  Untungnya Muhyidin  adalah penduduk asli Dusun Sigemplong. Ia menjadi petani kentang sepulang mengajar untuk menambah penghasilan.

Saat bertemu dengan Anggota Komisi X DPR Dr Marlinda Irwanti, S.E., M.Si dalam kunjungan kerja di masa reses pada 9 Maret lalu, Baik Yumrotul maupun Muhyidin  berharap pemerintah bisa memperhatikan nasib mereka.

Ditemui di Gedung DPR/MPR RI Marlinda Irwanti menyatakan akan terus memperjuangkan nasib guru honorer seperti Yumrotul dan Muhyidin, Ia menegaskan bukan karena keduanya ada di daerah pemiihan yang diwakilinya namun karena perjuangan guru honorer tersebut.

Comments

comments

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *