HomeBeritaHetifah Sjaifudian Sesalkan Minimnya Keterwakilan Perempuan di KPU-Bawaslu

Hetifah Sjaifudian Sesalkan Minimnya Keterwakilan Perempuan di KPU-Bawaslu

JAKARTA – Komisi II DPR RI telah menyelesaikan rangkaian uji kelayakan dan pemilihan calon anggota KPU-Bawaslu. Minimnya keterwakilan perempuan pada lembaga penyelenggara Pemilu itu disesalkan oleh Hetifah, anggota Komisi II fraksi Partai Golkar.

“Secara khusus, saya menyayangkan bahwa kuota 30 persen keterwakilan perempuan dalam penyelenggara Pemilu (KPU-Bawaslu) masih belum tercapai. Dalam UU No 15 tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu pasal 6 disebutkan komposisi keanggotaan KPU, KPU Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30 persen”, jelas anggota DPR RI dari Dapil Kaltim-Kaltara ini.

Hasil voting hanya terpilih satu perempuan baik di KPU maupun Bawaslu. “Dari 7 anggota KPU terpilih, hanya satu ada satu perempuan. Demikian juga dengan Bawaslu, dari 5 nama yang terpilih hanya satu perempuan. Besar harapan saya jika RUU Pemilu yang sedang dibahas dan mengusulkan penambahan jumlah anggota KPU-Bawaslu, ada calon-calon perempuan yang dapat mengisi posisi”, kata politisi Partai Golkar dalam relesenya kepada Tribunkaltim.co.

Meski demikian, Hetifah mengaku bangga bahwa perolehan suara terbanyak calon anggota Bawaslu adalah perempuan, Ratna Dewi Pettalolo. Ia berharap Bawaslu mendatang dipimpin oleh perempuan. “Saya harap nanti ketua Bawaslu perempuan. Tadi malam Bu Ratna Dewi yang peroleh suara terbanyak”, lanjut Hetifah.

Komisi II DPR RI meminta agar KPU-Bawaslu yang terpilih dapat bekerjasama dengan Komisi II maupun stakeholder lainnya untuk mewujudkan penyelenggaraan Pemilu yang lebih demokratis. Hal ini diungkap Komisi II DPR dalam fit and propertest (uji kelayakan) calon anggota KPU-Bawaslu.

Secara umum pelaksanaan uji kelayakan berlangsung lancar. Seluruh calon anggota KPU-Bawaslu memaparkan visi dan misi mereka jika terpilih. Uji kelayakan calon anggota KPU-Bawaslu digelar sejak tanggal 2 sampai 4 April, dan pemilihannya dilakukan pada Kamis (5/4) dini hari. Setelah melewati rangkaian diskusi untuk musyawarah mufakat tidak mencapai kesepakatan, Komisi II memutuskan melakukan voting.

Tribunnews

Comments

comments

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *