HomeBeritaBambang Soesatyo Minta Polri dan BIN Tindak Tegas Provokator

Bambang Soesatyo Minta Polri dan BIN Tindak Tegas Provokator

Jakarta – Ketua Komisi III DPR, Bambang Soesatyo (Bamsoet), mengatakan, ada upaya berkesinambungan untuk memprovokasi dan mengadudomba antar kelompok masyarakat melalui penyebaran berita bohong (hoax). Mengacu pada keberagaman masyarakat, aksi para provokator ini harus segera dihentikan karena dinilai sangat berbahaya.

“Polri dan Badan Intelijen Negara (BIN) perlu memberi tanggapan sangat serius untuk menghindari kemungkinan terburuk. Kita tuntut Polri dan BIN mampu mendeteksi aksi para provokator itu,” ujar Bamsoet di Jakarta, Minggu (21/5).

Menurut Bambang, kemampuan Polri dan BIN mendeteksi aktivitas provokator dan penyebar hoax perlu dibuktikan dan ditunjukan agar tumbuh efek jera. Jika bukti-buktinya sudah mencukupi, ujar dia, para provokator itu harus dihadapkan pada proses hukum dengan ancaman sanksi hukum semaksimal mungkin.

“Upaya terbaru para provokator mengadu domba antar kelompok masyarakat tampak sangat jelas di Pontianak, Kalimantan Barat, pada Sabtu (20/5) pekan lalu. Sepanjang hari itu, beredar video yang menggambarkan kerusuhan terjadi di Pontianak. Padahal, tidak ada peristiwa luar biasa di kota itu pada akhir pekan kemarin,” ungkap dia.

Bambang menceritakan, bahwa pada hari Sabtu tersebut memang ada dua kelompok masyarakat yang sedang melakukan kegiatan di ruang publik pada waktu yang sama di lokasi berbeda.

Kedua kelompok tersebut adalah sekumpulan warga Bela Ulama 205 melakukan kegiatan long march pada pukul 13.00 WIB dan warga Dayak melakukan pawai kendaraan hias pada pukul 14.00 WIB, diikuti seluruh perwakilan kabupaten di Kalbar.

“Namun, di media sosial, beredar sejumlah video yang memuat informasi tentang terjadinya bentrokan antara dua kelompok itu di Pontianak. Kepolisian setempat pun harus buru-buru memastikan video-video itu hoax. Setelah ditelusuri, video yang viral sepanjang hari itu adalah video lama yang memuat informasi peristiwa tahun 2015,” terang dia.

Menurut Bamsoet, penyebaran video hoax itu jelas-jelas merupakan pekerjaan atau ulah provokator dengan tujuan mengadu domba antar kelompok masyarakat. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, kata dia Polri dan intelijen negara harus merespons ulah para provokator itu.

“Hal ini harus ditanggapi dengan sangat serius. Bagaimana pun, harus diakui bahwa situasi saat ini belum terlalu kondusif. Faktanya, keberagaman masyarakat kita sedang menghadapi ujian. Dalam situasi yang demikian, Polri dan BIN harus responsif,” pungkasnya.

Beritasatu

Comments

comments

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *