HomeBeritaTitiek Soeharto: Pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarto Terkesan Lamban

Titiek Soeharto: Pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarto Terkesan Lamban

WATES – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Siti Hediati Soeharto SE mendorong pemerintah segera menyelesaikan pembangunan Pelabuhan Ikan Internasional Tanjung Adikarto di muara Sungai Serang Desa Karangwuni Kecamatan Wates. Penyelesaian pembangunan pelabuhan yang digadang-gadang akan menjadi pelabuhan terbesar di kawasan pantai selatan DIY tersebut saat ini terkesan mangkrak.

“Saya bersama komisi IV sudah sempat berkunjung ke sana (Pelabuhan Tanjung Adikarto-Red.) Waktu itu proses pembangunanya sudah mencapai 60 persen. Tapi memang sempat terhenti karena katanya bukan kewenangan Kementerian Kelautan Perikanan melainkan Kementerian Pekerjaan Umum. Terkesan saling lempar kewenganan. Perkembangan pembangunannya akan kami pertanyakan lagi di pusat,” kata wanita yang akrab disapa Titiek Soeharto usai pembagian paket sembako kepada warga di Kantor DPD Partai Golkar Kulonprogo, Minggu (11/06/2017).

Acara dihadiri Ketua DPD Partai Golkar setempat Drs Suharto, anggota Fraksi Partai Golkar DPRD DIY Sukarman serta hampir seluruh anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Kulonprogo.

Titiek Soeharto mengaku prihatin kalau sampai pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarto mangkrak dan tidak bisa dimanfaatkan oleh masyarakat nelayan. Apalagi sejumlah gedung fasilitas pelabuhan sudah selesai dibangun dengan anggaran yang sangat besar. Terlebih apabila sejumlah fasilitas itu sampai rusak.

“Memang ada pengurangan anggaran sehingga mengakibatkan pembangunan mundur atau terhenti. Tapi itu mestinya tidak jadi alasan. Karena pemerintah tentunya bisa memilah proyek pembangunan mana yang harus diprioritaskan penyelesaiannya,” tegas putri Presiden kedua tersebut.

Seperti diketahui Pelabuhan Ikan Internasional Tanjung Adikarto yang berdekatan dengan calon lokasi bandara baru dibangun sejak 2004 silam. Tapi sampai saat ini, infrastruktur tersebut belum juga bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh para nelayan. Karena belum bisa untuk bersandar kapal yang berkafasitas 30 grosston. Salah satu fasilitas yang belum berfungsi secara maksimal adalah bangunan pemecah ombak sehingga membuat terjadinya penumpukan sedimen pasir. Hal itu membuat kapal tidak bisa berlabuh.

Perkembangan terakhir pemerintah menyatakan akan melanjutkan pembangunan pelabuhan tersebut pada 2018 mendatang dengan menambah panjang bangunan pemecah ombak.

Sumber: krjogja.com

Comments

comments

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *