Indonesia mendorong parlemen dunia meningkatkan kerja sama lintas sektor serta melakukan inovasi pada keuangan, teknologi, infrastruktur, dan kemitraan untuk memastikan semua orang memiliki akses ke energi berkelanjutan.

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengatakan bahwa akses ke energi bersih, aman, dan terjangkau dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Ketersediaan energi seperti listrik sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia, sekaligus menjadi kebutuhan mutlak menunjang pembangunan. Namun, hal ini menjadi tantangan besar bagi kita mengingat ketergantungan pada energi fosil dan pengembangan sumber energi terbarukan masih sangat terbatas,” paparnya saat membuka World Parliamentary Forum on Sustainable Development (WPFSD) di Bali seperti dikutip dari keterangan resmi, Rabu (12/09/18).

WPFSD merupakan wadah pertemuan parlemen dunia yang digagas DPR sejak 2017. Forum ini secara khusus diselenggarakan untuk meningkatkan peran parlemen dunia dalam mendukung pencapaian Agenda Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGS) 2030.

Pertemuan pertama berhasil merumuskan pembangunan yang inklusif dan merata sehinga tidak ada pihak yang ditinggalkan.

“Penetapan Tujuan Pembangunan Global (SDG) dan Paris Agreement mengenai perubahan iklim pada 2015 telah mengidentifikasi energi sebagai salah satu sektor utama bagi pencapaian pembangunan berkelanjutan. PBB juga telah menetapkan 2030 sebagai target waktu untuk memastikan akses ke energi yang terjangkau, handal, berkelanjutan dan modern bagi semua,” jelas Bambang.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) ini menerangkan permintaan energi semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk dan pembangunan yang terus berkembang. Ketergantungan terhadap energi fosil terutama minyak bumi menimbulkan kekhawatiran mengingat energi tersebut bukan energi yang terbarukan.

Padahal, potensi energi terbarukan seperti biomassa, panas bumi, energi surya, energi air, dan energi angin diyakini cukup besar. Pemanfaatannya pun disebut masih sangat terbatas.

Pemanfaatan energi terbarukan yang masih terbatas dinilai disebabkan banyak faktor. Misalnya, harga yang belum kompetitif bila dibandingkan dengan energi fosil, penguasaan teknologi yang rendah sehingga nilai impornya tinggi, keterbatasan dana untuk penelitian, pengembangan, maupun investasi, serta infrastruktur yang kurang memadai.

“Pembangunan berkelanjutan di bidang energi, dalam proses produksi dan penggunaannya, mendukung pembangunan manusia dalam berbagai aspek kehidupan termasuk aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Semua pihak baik pemerintah, swasta maupun masyarakat harus terlibat sehingga bisa melipatgandakan kontribusi energi terbarukan dalam struktur energi dunia,” ungkapnya.

Bisnis Indonesia

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *