Berita GAGASAN DARI SENAYAN

Gerakan Pramuka, Pendidikan Karakter, dan Tantangannya di Era Digital

Oleh: Hetifah Sjaifudian, Wakil Ketua Komisi X DPR RI

Tepat pada Rabu, 14 Agustus 2019, gerakan kepanduan Pramuka merayakan ulang tahunnya yang ke-58. Jika melihat umurnya dan menganalogikan dengan siklus hidup manusia, maka gerakan pramuka saat ini sudah memasuki masa tuanya. Tidak heran jika kemudian anak-anak kita beranggapan bahwa pramuka itu jadul dan ketinggalan zaman.

Jika sudah seperti itu, maka Pramuka yang merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang berarti “Jiwa muda yang suka berkarya’ akan kehilangan semangatnya. Sebagai sebuah gerakan, di usia inilah seharusnya pramuka bisa memperbaharui dirinya sehingga tidak semakin ditinggalkan jiwa muda.

Di era digital dan teknologi informasi, motor penggerak pramuka harus selalu maju, mengikuti perkembangan zaman, tanpa meninggalkan ruh dan tujuannya. Sebab, tidak bisa menutup mata, gerakan pramuka lambat laun terus ditinggalkan para fansnya.

Mengapa? Sebab anak-anak sekolah semakin malas pergi keluar dan mencari petualangan di luar rumah. Smartphone membuat mereka yang seharusnya bermain di luar, lebih merasa senang terkurung di rumahnya sendiri.

Mendapatkan high-score di game online, menonton Youtube, atau mendengarkan potcast di kamar, menjadi jauh lebih menarik dari pada berpanas-panasan dan mengikuti gerakan pramuka. Keterampilan mencari jejak, membangun tenda, bertahan hidup di alam (survival), membuat sandi dan simpul yang dulu dianggap keren, kini sudah dianggap ketinggalan zaman.

Tanpa adanya jiwa muda yang berperan, maka gerakan pramuka yang seharusnya semakin hebat di umurnya yang ke-58 tahun, akan semakin tenggelam.

Itu tidak bisa dibiarkan, sebab kehadiran gerakan Pramuka bagi kalangan muda masih diperlukan sebagai wadah pendidikan karakter calon-calon pemimpin bangsa ke depan. Apalagi kita masih yakin, Pramuka bisa memberikan kontribusi nyata dalam mengantisipasi efek negative teknologi informasi, internet, hoaks, hingga membendung paham radikalisme.

Pramuka bisa menyediakan kegiatan luar ruang, sehingga bisa menjadi ruang baru bagi siswa untuk bersosialisasi dan mengekspresikan bakat dan minatnya secara bebas dan gembira.

Kita berharap, masuknya latihan pramuka ke dalam ekstrakurikuler wajib dalam kurikulum pendidikan 2013 (K13) bisa mengembalikan kejayaan gerakan pramuka. Seperti diketahui, kepramukaan telah ditetapkan menjadi ekstrakurikuler wajib di tingkat Sekolah Dasar (SD/MI), SMP dan MTs, serta SMA, MA, dan SMK.

Kebijakan itu didasarkan pada Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, ditambah dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2014 tentang Pendidikan Kepramukaan sebagai kegiatan Ekstrakurikuler Wajib pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Harapannya pembinaan pendidikan kepramukaan di satuan pendidikan baik pendidikan dasar dan pendidikan menengah akan semakin kuat.

Sebagai ekstrakurikuler wajib, kepramukaan harus diikuti oleh seluruh siswa sekolah. Dengan begitu, maka sekolah tidak hanya berpacu mengejar kelulusan dan nilai ujian nasional, namun bisa mengutamakan pendidikan karakter melalui latihan pramuka.

Pramuka bisa menjadi penyeimbang kegiatan pembelajaran di sekolah yang lebih berorientasi pada ranah kognitif (pengetahuan) dan psikomotorik (ketrampilan). Kegiatan pramuka akan mampu membangun kecerdasan siswa pada ranah afeksi (sikap dan perilaku), sehingga siswa akan mampu mengembangkan karakternya secara positif.

Dengan memasukkan pramuka sebagai ke kurikulum pendidikan, maka tidak ada alasan lagi bagi pemerintah untuk tidak mengalokasikan dana pembinaan kepramukaan bagi setiap Gugus Depan dan Kwartir. Pemerintah juga berkewajiban untuk terus membina pelatih pramuka secara periodik, sehingga mampu menciptakan pembina pramuka yang handal dan berkualitas.

Alokasi dana dan pembinaan menjadi penting, agar pramuka bisa melakukan inovasi kreatif agar tetap mampu menarik perhatian siswa. Pramuka harus menjadi gerakan yang fleksibel, menyenangkan, dan implementatif tanpa meninggalkan fungsi dan tujuannya.

Tanpa inovasi kreatif dan menjadikan pramuka sebagai sesuatu yang menyenangkan, maka pramuka tetap akan ditinggalkan. Anak-anak masih akan tetap lebih senang bermain media sosial, bermain games dan memegang smartphone-nya dibandingkan aktif mengikuti gerakan pramuka.

Pramuka harus bisa menjadi ujung tombak pendidikan karakter anak bangsa. Nilai kepemimpinan, kebersamaan, sosial, kecintaan pada alam, kepercayaan diri hingga kemandirian, harus bisa menjadi karakter siswa sekolah. Dengan begitu maka cita-cita Lord Baden Powel, pendiri Pramuka dunia, yang menginginkan agar pemuda memiliki jiwa ksatria, tangguh dan disiplin pun bisa tercapai.

Salam Pramuka.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *