Breaking News :

Melchias Markus Mekeng: Airlangga Hartarto, Menaklukkan Badai, Memenangkan Golkar

Jakarta – Ketua Fraksi Partai Golkar Melchias Markus Mekeng mengatakan Airlangga Hartarto adalah orang yang dapat membangkitkan kembali kejayaan Partai Golkar. Airlangga dinilai mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada Partai Golkar, sekaligus menyatukan kembali partai yang dililit perpecahan internal tersebut.

Sesaat setelah ditetapkan sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar dalam Rapat Pleno di Jakarta , pada 13 Desember 2017 lalu, keluarlah pernyataan dari Airlangga Hartarto, yakni, “Tidak ada faksi-faksi di Golkar. Yang ada adalah seluruh kita bersama, bekerja dalam satu setengah tahun ke depan menyelesaikan agenda-agenda politik.”

Mekeng mengatakan pernyataan ini tentunya disampaikan Airlangga Hartarto karena dia sadar betul kondisi Golkar saat itu yang dililit persoalan internal yang luar biasa, sementara masa kepemimpinannya yang begitu singkat.

Terpilihnya Airlangga Hartarto secara aklamasi saat ini juga merupakan sebuah kesadaran kolektif dari seluruh kader tentang situasi perpecahan internal yang cukup panjang dan melelahkan, disertai kasus hukum yang melanda ketua umum saat itu (Setya Novanto) telah menguras kepercayaan publik yang luar biasa terhadap partai Golkar.

Menurut hasil survei dari beberapa lembaga survei saat itu Partai Golkar tergurus elektoralnya sampai pada angka 6-7 persen. Tantangan terbesar Airlangga Hartarto saat itu adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat pada Partai Golkar.

Setelah dikukuhkan dalam Munaslub tanggal 14 Desember 2017, selaku Ketua Umum DPP Airlangga Hartarto bergerak cepat untuk menyelesaikan beberapa agenda penting di depan mata, yaitu membentuk kepengurusan DPP, melakukan konsolidasi organisasi dan struktural untuk menghadapi Pemilihan Kepala Daerah Langsung tahun 2018 dan Pileg dan Pilpres serentak tahun 2019.

“Di tengah kesibukannya selaku Menteri Perindustrian RI, ketua umum selalu memiliki waktu buat kepentingan Partai Golkar dengan mengunjungi hampir seluruh provinsi di Indonesia untuk memberi semangat kepada para pengurus dan kader partai di setiap daerah,” lanjut Mekeng.

Di tengah tugas konsolidasi tersebut, Airlangga Hartarto masih dibayang-bayangi berbagai persoalan yang sudah dan sedang terjadi. Beberapa persoalan dan tantangan paling utama yang menuntut penyelesaian dan pemulihan kepercayaan publik berupa masalah dualisme kepengurusan antara Munas Bali dan Ancol, kasus “Papa Minta Saham” dan korupsi yang menjerat beberapa elite Golkar di nasional dan daerah.

Selain itu, Golkar mengalami pergantian ketua umum berulang kali, dituduh sebagai partai pendukung penista agama, ditangkapnya mantan Ketua Umum Golkar Setya Novanto, korupsi mantan Sekjen Golkar Idrus Marham, dan korupsi anggota DPR dari partai Golkar menjelang detik-detik akhir pencoblosan Pemilu 2019. Kemudian lahir pula Partai Berkarya yang dibidani sejumlah mantan elite Golkar yang secara nyata menggerus suara Golkar.

“Kalau dilihat dari dinamika ini maka bisa saja Golkar terjerembab ke titik nadir sesuai dengan prediksi sebagian lembaga survei yang sempat memperkirakan bahwa perolehan Golkar hanya di kisaran 6-9 persen secara nasional,” kata Mekeng.

Dengan segala tantangan yang dihadapi Golkar dan dengan segala keterbatasan waktu serta finansial seluruh pengurus dan caleg pada semua tingkatan, serta para kader dan simpatisan yang telah bekerja bahu membahu dengan semnagat gotong-royong, Partai Golkar akhirnya untuk pertama kalinya berhasil memenangkan calon presiden yang diusungnya selama dalam sistem Pemilihan Umum Presiden secara langsung di era reformasi. Bahkan Partai Golkar tetap bertengger di posisi kedua perolehan kursi DPR RI setelah PDIP.

“Inilah sebuah hasil kerja keras seluruh keluarga besar Partai Golkar pada semua tingkatan, perjuangan di tengah prahara dengan sebuah hasil yang sangat membanggakan,” kata Mekeng.

Jika kita membandingkan hasil perolehan 91 kursi Golkar di DPR pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 dengan perolehan 106 kursi pada Pileg 2009 di mana tahun itu Golkar tidak dilanda badai dan tantangan yang besar, terjadi penurunan sebanyak 15 kursi.

“Perolehan jumlah kursi DPR RI dengan masa kepemimpinan 1,3 tahun dari Airlangga Hartarto yang mengalami penurunan enam kursi DPR RI (menjadi 85 kursi dari 91 kursi) dengan amukan badai yang sangat dahsyat di atas maka dapat kita sampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas keberhasilan Partai Golkar di bawah kepemimpinan Ketua Umum Airlangga Hartarto,” kata Mekeng.

“Kita patut berterima kasih atas langkah-langkah strategis dan cepat dari ketua umum sehingga pengalaman yang pernah dialami salah satu partai yang pernah berkuasa (Demokrat, red), di mana terjadi penurunan drastis dari 20 persen kemenangan di Pemilu Legislatif tahun 2009 ke angka 10 persen di Pemilu Legislatif tahun 2014 dan turun lagi di angka 7,77 persen pada Pemilu Legislatif tahun 2019.

Mekeng berharap perjuangan dan hasil yang sangat membanggakan ini dapat menjadi penyulut semangat seluruh pengurus dan kader pada semua tingkatan, menata secara lebih dan mantap demi kejayaan Partai Golkar pada pemilu yang akan datang.

“Solidaritas dan semangat gotong royong yang menjadi andalan Partai Golkar pada Pemilu Legislatif 2019 ini bersama Airlangga Hartarto, sudah seharusnya menjadikan momentum titik balik kebangkitan Golkar saat dan sebagai energi pendorong dan pemersatu Golkar untuk tetap kokoh di peringkat sebagai kekuatan politik nasional yang sangat diperhitungkan. Seluruh keluarga besar Partai Golkar harus fokus menatap ke depan dengan modal yang ada sekarang untuk memenangkan suara rakyat di tahun 2024,” tutupnya.

Beritasatu

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Adies Kadir: Juli, Golkar Tunjuk Pimpinan DPR Baru

Read Next

Komisi X DPR Pantau Pelaksanaan PPDB di Jawa Timur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *