GAGASAN DARI SENAYAN

Menimbang Pemilu Serentak 2019: Dampaknya Terhadap Suara Partai

Oleh: Zulfikar Arse Sadikin (Tenaga Ahli Fraksi Partai Golkar)

Foto-dari-BeritaSatu

Untuk pertama kali, atas putusan MK, pada pemilu 2019, kita akan menggelar pemilu serentak. sebuah pemilu yg menjadikan pileg-pilpres dilaksanakan dalam satu hari H pemilihan. pemilu serentak ini dirancang untuk menghasilkan eksekutif yg mendapat dukungan penuh legislatif.

Dalam pemerintahan presidensial dengan multi partai dan pileg-pilpres dilaksanakan terpisah, acap kali menghasilkan pemerintahan yg terbelah (devided government). pemenang pilpres berbeda dengan pemenang pileg, sehingga eksekutif tidak mendapat dukungan penuh legislatif.

Dengan pemilu serentak diharapkan pengalaman dan keadaan tersebut dapat diatasi. karena belajar dari negara-negara amerika latin yg telah lebih dulu menerapkan pemilu serentak diperoleh kenyataan, pemilih pasti memberikan suara kpd partai yg mengusung capres yg menjadi pilihannya. inilah yg disebut dengan coatail effect theory. sehingga, pemerintahan yg dihasilkan adalah pemenang eksekutif juga pemenang legislatif, eksekutif mendapat dukungan penuh legislatif.

Pertanyaan kritisnya, untuk pemilu serentak 2019 nanti, apakah kita akan langsung mendapatkan hasil seperti yg diharapkan. sebab brazil dan argentina sj membutuhkan 3 kali pemilu untuk mencapai tujuan dr pemilu serentak, untuk mendapatkan coatail effect.

Selanjutnya, dengan syarat 20% kursi dan atau 25% suara (pileg 2014) untuk parpol dan atau gabungan parpol bisa mengusung paslon capres/cawspres, sebagaimana yg diusulkan pemerintah dlm draf ruu penyelenggaraan pemilu. tentu paslon capres/cawapres akan diusung minimal oleh dua partai.

Kalau demikian adanya, pemilih, untuk partai akan memberikan suara kepada siapa. atau dengan kata lain partai mana yg akan lbh diuntungkan. boleh jadi untuk capres/cawapres bisa sama, tapi karena partai yg mengusung capres/cawapres ini minimal dua, pemilih tentu punya pertimbangan lain menentukan partai yg akan dipilih.

Secara hipotetik, bisa jadi berlaku teori identifikasi partai, artinya untuk partai, pemilih akan memberikan suara kpd partai yg sdh sejak awal menjadi pilihannya. kalau ini yg berlaku, maka yg lbh diuntungkan adalah partai yg memiliki basis pemilih tradisional yg kuat.

Bisa jadi inilah yg hendak dituju partai golkar dengan mengusung jokowi sejak dini untuk capres pd pemilu serentak 2019.

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *