Pengembangan Pariwisata dan Ekraf Harus Beriringan - Fraksi Golkar DPR RI

Breaking News :

Pengembangan Pariwisata dan Ekraf Harus Beriringan

Ketika pemerintah melakukan pengembangan di sektor pariwisata, tidak bisa hanya sebatas urusan lingkungan, pemandangan, atau view semata, namun juga ada sektor yang tak boleh terlupakan yaitu ekonomi kreatif (ekraf). Sangat banyak produk ekraf yang bisa menunjang sektor pariwisata seperti kerajinan, makanan yang bisa dijadikan buah tangan. Untuk itu, kedua sektor ini harus selalu berjalan beririringan.

Hal ini menjadi perhatian Anggota Komisi X DPR RI Muhammad Nur Purnamasidi ketika memimpin tim kunjungan kerja Komisi X DPR RI ke Gresik, Jawa Timur, Kamis (8/10/2020). “Seringkali itu (ekraf) terlupakan. Tempat wisatanya sudah bagus, tapi kemudian industri pendukungnya kurang bagus. Misalnya makanannya kurang higienis, aneka ragam masakannya juga tidak menarik minat pengunjung. Harus beriringan antara pariwisata dan ekraf,” ucapnya.

Ia menilai, sinergi antar keduanya saat ini masih belum nampak. Pariwisata dan ekraf kerap kali terlihat jalan masing-masing. Hal ini tentu saja membuat adanya kekosongan yang seringkali diisi oleh pihak luar. “Yang terjadi akhirnya apa? Ya itu tadi, oleh-oleh itu datangnya dari luar negeri. Seperti yang terjadi di Bali beberapa waktu lalu yang sempat heboh. Jadi ada ruang kosong yang belum dioptimalkan,” ucap Nur Purnamasidi.

Meskipun secara kelembagaan pariwisata dan ekraf sudah menjadi satu, tapi iramanya keduanya masih belum padu. Ia mencontohkan salah satu program kepariwisataan yaitu program Bersih, Indah, Sehat, Aman (BISA). “Misalnya bersih-bersih sampah. Kemudian sampah itu cuma dikumpulkan. Coba kalau ada ekraf-nya, setelah sampah dikumpulkan, diolah menjadi industri olahan baru, misalnya dari plastik menjadi tas, kemudian menjadi oleh-oleh bagi wisatawan,” ujarnya mencontohkan.

Dari sisi regulasi, menurut politisi Fraksi Partai Golkar ini sudah cukup. Namun memang harus ada will-nya antara mereka yang bergerak di bidang pariwisata juga ekraf. “Chemistry antara kedua sektor tersebut dinilai masih belum nyambung. Itu chemistry-nya belum nyambung. Kami bisa lihat, ketika rapat-rapat kerja dengan Komisi X DPR RI, pariwisatanya ke kanan, ekrafnya ke kiri. Belum ada program bersama yang mensinergikan kedeputian pariwisata dengan kedeputian bidang ekraf,” ungkapnya.

Ia berharap sekali agar kedua sektor tersebut terus meningkatkan sinergi. Selain turut mendongkrak perekonomian masyarakat lokal, pendapatan negara pun akan meningkat. “Kalau tidak, ya itu tadi. Capaian-capaian yang dilakukan pemerintah untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai menyumbang terbesar devisa secara nasional akan sulit untuk kita capai,” pungkasnya.

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Ketua Komisi XI Dorong Pembangunan Kawasan Ekonomi Jateng

Read Next

Komisi VII Tinjau Operasionalisasi PLTP Patuha