Penjelasan BATAN Soal Pemanfaatan Teknologi Nuklir untuk Lingkungan - Fraksi Golkar DPR RI

Breaking News :

Penjelasan BATAN Soal Pemanfaatan Teknologi Nuklir untuk Lingkungan

Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) memanfaatkan teknologi nuklir untuk lingkungan. Dengan menggunakan analisis teknik nuklir, kandungan polutan udara dapat dideteksi secara detail hingga ukuran 2,5 mikro atau sering disebut dengan istilah PM 2,5.

Hal ini menjadi pembahasan Komisi VII DPR RI saat mengunjungi Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) BATAN di Bandung.

Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan mengatakan, PSTNT menjadi tempat dimulai sejarah nuklir di indonesia. Pada tahun 1961, Presiden RI pertama, Soekarno meletakkan batu pertama pembangunan reaktor nuklir.

“Ini merupakan cita-cita besar bangsa Indonesia,” kata Anhar, seperti dikutip dalam rilis BATAN di Jakarta, Selasa (15/12).

Pemanfaatan reaktor nuklir ini, menurut Anhar sangat banyak, baik di bidang pertanian, industri, kesehatan, dan lingkungan. Salah satu kegiatan penelitian yang sangat bermanfaat bagi lingkungan yang dilakukan PSTN adalah analisis teknik nuklir untuk mendeteksi polutan udara.

Plt Kepala PSTNT, Eva Maria Widyasari menjelaskan, polusi udara yang terjadi di sekitar kita dapat memberikan dampak yang kurang baik pada lingkungan.

“Polusi udara itu sangat berdampak buruk pada kesehatan dan lingkungan,” jelas Eva.

Menurutnya, data kematian di dunia ini akibat pencemaran udara cukup tinggi sekitar 100 ribu orang di tahun 2020. Hal ini, terjadi karena adanya ketidakpedulian terhadap nilai baku mutu kualitas udara.

Dengan memanfaatkan teknologi nuklir, BATAN bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup di seluruh Indonesia dalam menentukan karakteristik polutan udara.

“Sudah tujuh belas perkotaan di Indonesia yang telah dilakukan pengukuran kualitas udara dan sudah ada datanya,” tambahnya.

“Pemantauan kualitas udara ini ditekankan pada partikel-partikel yang berukuran sangat kecil yang berukuran 2,5 mikro. Dan bila digambarkan, ukurannya sama dengan rambut yang dibelah 40, sehingga sangat kecil,” ucapnya.

Katanya, dengan ukuran yang sangat kecil ini dapat membahayakan kesehatan karena ketika dihirup dapat masuk ke saluran pernafasan manusia yang paling dalam yang dapat mengganggu pernafasan, dan menyebabkan kanker. Untuk itulah, dengan teknik analisis nuklir, polutan udara dapat dideteksi karakteristiknya dan dapat diketahui sumber polutan yang terjadi di suatu lokasi.

Senada dengan Eva, peneliti senior BATAN di bidang lingkungan, Muhayatun mengatakan, melalui teknik analisis nuklir, dapat diketahui karakteristik polutan udara yang tidak bisa ditemukan bila menggunakan analisis yang lain.

“Dengan teknik ini kami mendapatkan banyak temuan partikel-partikel polutan yang selama ini tidak diketahui dengan teknik yang lainnya,” ujar Muhayatun.

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Pengembangan Pariwisata Cirebon Perlu Disempurnakan

Read Next

Komisi IX DPR Dorong Industri Rokok Minimalisir Dampak Negatif Kesehatan