Peran Dunia Pendidikan Di Tengah Pandemi Corona (Wakil Ketua Komisi X DPR-RI, Hetifah Sjaifudian) - Fraksi Golkar DPR RI

Breaking News :

Peran Dunia Pendidikan Di Tengah Pandemi Corona (Wakil Ketua Komisi X DPR-RI, Hetifah Sjaifudian)

Saat ini, seluruh elemen bangsa bahu-membahu melawan penyebaran virus Covid-19 (Corona), tak terkecuali dunia pendidikan. Instansi pendidikan harus dengan cepat memanfaatkan perannya untuk membantu mengatasi situasi yang mendesak ini. Beberapa hal yang harus dilakukan oleh dunia pendidikan adalah aktif memberikan contoh dalam melaksanakan himbauan pemerintah serta mengedukasi masyarakat mengenai isu ini melalui orang tua dan murid. Penyebaran dapat dihentikan bila semua masyarakat teredukasi dengan baik. Selain itu, dunia pendidikan juga memiliki sumber daya yang akan dapat membantu sistem kesehatan kita dalam melakukan penanganan Covid-19

Pertama-tama, institusi pendidikan harus menerapkan himbauan dan arahan dari pemerintah terkait pencegahan dan penanganan Covid-19. Oleh karena itu, dalam menjalankan kebijakan pembatasan sosial, seluruh sekolah harus meliburkan kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan secara langsung. Sebagian setuju dengan langkah ini tetapi sebagian tidak menyetujuinya dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah anak dianggap memiliki sistem ketahanan tubuh yang masih kuat dan tidak mudah terjangkit Covid-19. Meskipun demikian, kita tetap harus melindungi dan memastikan anak-anak kita tetap sehat dan aman di tengah pandemi. Apalagi, meski berbadan sehat, anak-anak tetap bisa menjadi carrier dan menyebarkan virus ke orang-orang rentan di sekitarnya. Pemerintah daerah harus tegas dalam memutuskan dan menginstruksikan sekolah-sekolah terkiat hal ini.

Akan tetapi penutupan sekolah saja tidak cukup. Sejauh ini berdasarkan pantauan lapangan, ditemukan banyak orangtua yang kebingungan dengan dirumahkannya anak-anak mereka.. Sebagai dampaknya, banyak anak-anak yang justru ditemukan berkeliaran di sekitar rumah, tanpa menjalani proses belajar mengajar. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang justru diajak berlibur oleh orangtua karena kurangnya pemahaman orang tua terkait tujuan penutupan sekolah itu sendiri. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan tujuan peliburan dari pemerintah, yaitu menghindari kerumunan dan penyebaran virus ke area yang lebih luas.

Hal ini perlu disayangkan dan perlu mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah. Orang tua merupakan aktor vital yang melindungi seluruh keluarga dari bahaya Covid-19. Sekolah memiliki peran strategis untuk melakukan pembinaan dan sosialisasi kepada orang tua, agar orang tua dapat melakukan tindakan yang tepat untuk melindungi keluarganya. Dalam hal ini, satuan pendidikan berperan penting dalam proses edukasi bagi anak-anak maupun orang tua. Satuan pendidikan dapat menjadi corong bagi penyebaran informasi yang akurat. Pemahaman yang baik akan membuat masyarakat melakukan himbauan pemerintah terkait pencegahan dan penanganan Covid-19 dengan tepat. Sebaliknya, jika masyarakat tidak memiliki pemahaman yang cukup, bahkan percaya dengan berita bohong yang bertebaran, maka banyak yang akan bertindak dengan salah.

Karena itu, pendidikan keorangtuaan (parenting) dan arahan untuk tenaga pendidik terkait pencegahan dan penanganan Covid-19 perlu dilakukan. Merupakan tugas Kemendikbud untuk memberikan tugas dan arahan kepada para guru untuk mengedukasi masyarakat melalui orang tua murid terkait Covid-19. Pemantauan terhadap bagaimana tenaga pendidik melakukan tugas ini juga harus dilakukan. Terbitkan juknis terstandar, sehingga tenaga pengajar tahu dengan pasti apa yang harus dilakukan.

Keputusan besar Kemendikbud yang lain adalah pembatalan pelaksanaan ujian nasional (UN). Penyelenggaraan ujian yang mengumpulkan banyak orang di skala nasional tentu sangat berpotensi memperluas penyebaran virus Covid-19. Belum lagi ditambah rantai perjalanan manusia yang harus dilakukan dalam penyelenggaraan ujian nasional. Hal ini sudah merupakan keputusan yang tepat untuk melindungi murid, tenaga pendidik, dan masyarakat secara umum.

Tentu, kebijakan ini menimbulkan banyak pertanyaan serta pro dan kontra. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana kita dapat mengevaluasi hasil belajar siswa? Terdapat banyak opsi untuk melakukan ini. Antara lain adalah melalui ujian sekolah yang dilaksanakan secara daring, nilai rapot di semester-semester sebelumnya, maupun melalui proyek-proyek kecil. Yang jelas, hal ini akan diserahkan sepenuhnya ke sekolah, mengingat sekolah adalah pihak yang paling mengerti keadaan siswanya, serta metode terbaik untuk menilai kualitas pembelajaran dalam konteks kondisi masing-masing.

Beberapa tahun belakangan ini, UN juga sudah tidak digunakan untuk menentukan kelulusan. UN hanya digunakan untuk memetakan kualitas pembelajaran secara nasional. Karena itu konsekuensi penghapusan UN tahun ini adalah ketiadaannya pemetaan kualitas pendidikan tahun ini. Akan tetapi tahun depan, kita dapat memulai lagi pemetaan berkala terhadap sistem pendidikan nasional melalui sistem baru yang saya harap lebih baik, yaitu asesmen kompetensi dan survey karakter.

Dengan ditiadakannya UN, terdapat sisa anggaran yang cukup besar di Kemendikbud. Kemendikbud telah mengajukan realokasi anggaran sebagai dana penanganan pandemi Covid-19. Selain dari anggaran UN, anggaran juga direalokasikan dari beberapa pos lain, seperti efisiensi perjalanan dinas dan penundaan program-program yang tidak dapat dilaksanakan maupun yang kurang mendesak. Total realokasi anggaran yang diajukan sebesar Rp. 405 Milyar.
Kami dari komisi X DPR-RI sangat mendukung langkah tersebut. Dari realokasi anggaran yang diajukan, jumlah paling besar diajukan untuk peningkatan kapasitas dan kapabilitas Rumah Sakit Pendidikan dan Fakultas Kedokteran. Program peningkatan kapasitas dan kapabilitas itu akan mempersiakan 13 RS Pendidikan Rujukan dan 13 Fakultas Kedokteran untuk menjadi testing center Covid-19. Selain itu, 13 RS Pendidikan tersebut juga disiapkan untuk menampung dan menangani pasien Covid-19. Hal ini, jika terlaksana dengan baik, tentu akan memberikan dampak signifikan dalam kualitas penanganan Covid-19.
Puluhan milyar juga telah diajukan untuk mobilisasi sekitar 15.000 mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan yang telah mendaftar sebagai relawan. Mereka akan ditugaskan memberikan edukasi dan sosialisasi informasi terkait Covid-19 kepada masyarakat. Diklat-diklat akan diselenggarakan untuk melatih para relawan sebelum mereka bertugas. Selain dibekali ilmu dan pengetahuan untuk dapat melakukan edukasi dan sosialisasi, banyak dari mereka yang juga dibekali ilmu untuk melakukan triage, tracking, dan testing virus Covid-19. Mobilisasi seluruh SDM ini sangat mendesak dilakukan di tengah kurangnya sumber daya manusia di bidang kesehatan. Mahasiswa pun dapat melaksanakan peran penting tridharma perguruan tinggi, dan berkontribusi aktif menyelesaikan permasalahan yang terjadi di masyarakat.
Saya percaya, seperti yang dikatakan oleh Presiden Indonesia, bahwa Indonesia adalah bangsa pejuang. Tak terkecuali mereka-mereka yang bergerak di bidang pendidikan. Mereka bisa juga menjadi garda pejuang dalam situasi krisis kesehatan ini. Saya sangat yakin, jika kita berusaha berbuat yang terbaik, serta terus bergandengan tangan, kita dapat mengatasi cobaan ini, dan memberikan yang terbaik bagi generasi penerus kita. Saya harap dengan majunya aktor-aktor dunia pendidikan di Indonesia, perang melawan pandemi Covid-19 akan dapat segera kita menangkan.

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Nurul Arifin Usul Anggota DPR Potong Gaji untuk Penanganan Covid-19

Read Next

Adies Kadir Ingatkan Polri Persuasif dalam Bubarkan Keramaian